simple life of a crowd-hater

Lima Ribu Untuk Bayar Amplop

[12.36]

Alam bangun lebih awal. Hari ini Jum’at, 29 Februari adalah hari yang istimewa. Dari semua tanggal penting dalam hidupnya, Alam hanya bisa mengingat 4 saja; hari ulang tahun ibunya, hari Bapaknya pergi ke Jepang tanpa kembali, hari kelahirannya, dan 29 Februari yang tak lain adalah ulang tahun Amira. Tepat pukul 3.30 pagi setelah Tahajud Alam bergegas menyapu, mengepel lantai kedai, merapikan kamar (baca: gudang), membersihkan kaca, menganggkat peralatan memasak, lalu terakhir mandi dan berpakaian. Seperti permintaan dan janji yang dibuatnya semalam dengan Induk Semangnya, hari ini Alam boleh libur setengah hari, dan kembali setelah shalat Jum’at. 

Semalam setelah tutup kedai, Alam meminta kertas bungkusan kedai, dan meminjam pena dari meja Kasir. Untuk bakat berkata-kata jangan tanya pada Alam, laki-laki dari kampungnya adalah pewaris kental darah pujangga. Alam memeras syaraf puitisnya mengawinkan kata demi kata menjadi sepucuk surat yang baru bisa membuatnya puas setelah 3 jam 57 menit bermenung. Surat selesai langsung dibungkus dengan kantong plastik, dan disimpan di bawah kasur. Sebelum tidur, angannya menerawang menembus langit-langit kamar. Berbantal lengan dan berselimut sarung, pikirnya begitu segar mengulang penggalan kisah bagaimana dia bisa sampai ke Ibu Kota ini.

Setelah orang tua satu-satunya yaitu Ibu meninggal, Alam tidak punya siapa-siapa kecuali Amira, bunga desa yang mungkin dengan bahasa sekarang bisa disebut “pacar” baginya. Hubungannya dengan Amira begitu kaku namun kian kuat di tiap pergantian hari. Kaku karena di kampungnya orang tidak mengenal pacaran dan hubungan dekat pasangan bukan muhrim. Kian kuat karena meskipun tidak selalu dilihat disampaikan, keduanya seakan bisa mengerti dengan bahasa tatap dan sikapnya. Setelah Amira menerima PMDK, Alam pun memutuskan ikut menyusulnya, dengan tekad berganda-ganda selain merantau mengubah nasih, diapun ingin tetap bisa meninjau Amira, memastikan pergaulan dan lingkungan tidak membelokkan haluan Amira.

Alam hanya membawa tiga pasang pakaian, beberapa potong dalaman, pisau, kopiah, dan kain sarung untuk membungkus itu semua. Uang, dibawah bantal hanya sisa dua ribu lima ratus rupiah. Dengan perjuangannya untuk bisa naik tanpa bayar, Alam sampai di kota bersama Amira. Kedatangan Amira sudah ditunggu pamannya, dan di rumah beliaulah nantinya dia akan menumpang tinggal. Sengankan Alam, sekalipun tak terpikir baginya akan makan apa dengan uang dua ribu lima ratus, atau akan tidur dimana. Dengan perut yang begitu lapar, Alam membelanjakan semua uangnya untuk makan, lalu memelas pekerjaan dan tempat tinggal pada Ibu yang punya Kedai.

Setelah semua pekerjaan pagi ini selesai, alam bergegas menuju kampus Amira. Dari lima puluh ribu gajinya bulan pertama ini, setelah dibelikan peralatan mandi dan sepatu untuk  bekerja, uangnya hanya bersisa sepuluh ribu rupiah; lima ribu untuk ongkos pulang pergi ketempat Amira, lainnya akan dibelikan untuk amplop. Sebelum naik angkot, Alam menyempatkan diri ke Fotokopi dekat Kedai lalu memberi amplop berwarna Merah Delima. Walaupun dibanderol lima ribu rupiah, alam akhirnya dengan berat hati tetap membelinya. Baginya moment spesial ini sangatlah berharga, karena baru kali ini dia punya kesempatan untuk bisa lebih dekat dengan Amira, dan lebih terang membahasakan rasa.

Sampai di kampus Amira, Dia yang bahkan tidak tahu dimana ruangan kelas Amira harus rela menitipkan saja surat itu pada Satpam kampus. Waktu dirasa tidak akan cukup kalau dia harus mencari atau menuggu untuk dapat berjumpa dulu dengan Amira. Bagi Alam, janji diatas segalanya, dan itu sudah diikrarkannya pada Induk Semang, orang yang sangat dia hargai.  Oleh Satpam, buah imaji Alam ini lantas ditampilkan di papan pengumuman, karena setelah memanggil di pengeras suara, tidak ada yang datang menjumput surat itu.

Teruntuk Amira

yang merah pipinya dan merdu lantunan ayatnya

Amira, jika diijinkan mungkin disurat ini hamba lancang memanggil nama Tuan.

Rasanya antara keberanian ini dan kurang ajar bedanya mungkin laksana lebih tipis dari gelembung buih, dan untuk itu maafkan aku terlebih dahulu.

Kasih, jika diijinkan mungkin disurat ini hamba lancang menyapa demikian.

Rasanya antara cinta ini dan kurang sopan bedanya mungkin laksana lebih tipis dari kulir ari buah salak kesukaanmu, dan untuk itu maafkan aku terlebih dahulu.

Sayang, selamat mengenang hari jadimu. Daku pintakan dihari nan bahagia ini keberkahan umur bagimu, kesehatan dan keberhasilan cita-cita, dan agar kau senantiasa dalam perlindungan cinta kasih Allah.

Amira, kekasih, mungkin selama ini dikau sudah lebih tahu dan memahami, bahwa meskipun tiada benderang, kau sekiranya bisa dengan mahir melihat menembus kelambu sikap dan bahasa tubuh ini. Aku menyayangimu kasih, aku mencintaimu sayang.

Amira, carikan aku laki-laki yang lebih mencintaimu dan mengerti dikau, selain Ayahanda dan Abangmu, niscaya kau tidak akan menemukan siapa melainkan datang padaku, akulah Amira.

Dan Amira, sungguh ku ingin berkata banyak, sungguh ku ingin bercerita banyak, sungguh ku ingin bertemu jumpa walau tiada berpegang bersentuhan.

Amira, kalau boleh aku meminta, sudilah kiranya dikau menemui aku ditempat aku bekerja, disana kau kutunggu.

Yang Berharap Hatinya

Syamsir Alam

[14.25]

nickelcobalt:

Honda GL1100 Gold Wing Custom

(Source: acricket86)

leilockheart:

Found on - LINK

leilockheart:

Found on - LINK

leilockheart:

Found on - LINK

leilockheart:

Found on - LINK

Ruam Diam

Mengapa waktu bergelut dengan rasa sedih tidak ada iringan musik, padahal seharusnya haru, padahal seharusnya galau, padahal seharusnya gundah, aneh.

Mengapa merenung sebelum tidur yang datang justru problema tadi dan kemaren, padahal seharusnya khayal, padahal seharusnya angan, padahal seharusnya indah, aneh.

Mengapa dikala hujan yang datang malah hujat, padahal seharusnya Petrichor sedap, padahal seharusnya subur, padahal seharusnya riang, aneh.

Mengapa saat jatuh tidak ingat tawa, padahal seharusnya tidak mati, padahal seharusnya tak melulu darah tak jua patah, padahal seharusnya bangkit, aneh.


anon asked | Chelsea Football Club

anon asked | Chelsea Football Club

(Source: davidluiz)

Our Heroes 

(Source: davidluiz)

(Source: juanito-cesco)

Written in the stars.

the Legend, the King

(Source: picslatersoccer)

YES WE ARE!

YES WE ARE!

(Source: keeptheblueflagflyinghigh)

lumpofcelery:

LEGEND

Salute to the Crowd!

lumpofcelery:

LEGEND

Salute to the Crowd!

(Source: tr4nsform)